JOMBANG, LintasDaerah.id – Bagi sebagian besar orang tua di Kabupaten Jombang, tahun ajaran baru bukan hanya soal menyiapkan anak masuk ke sekolah mana sesuai harapannya. Di balik itu, ada beban lain yang terasa semakin berat, yakni biaya seragam sekolah.
Keluhan soal harga seragam SMA dan SMK Negeri di Jombang mulai jadi rasan-rasan. Pasalnya, seragam hanya bisa didapat di koperasi sekolah, dan harganya pun dinilai terlalu mahal, bahkan bisa mencapai hampir setengah juta rupiah untuk satu setel seragam saja.
Keluhan itu bukan hanya soal angka rupiah yang tinggi, melainkan juga tentang aksesnya yang terbatas, kualitas kain yang tidak sepadan dengan harga yang membuat orang tua murid seakan tidak punya pilihan lain.
Seorang wali murid, sebut saja NY mengaku terkejut ketika mengetahui harga kain seragam putih abu-abu saja mencapai Rp356 ribu per 1,75 meter. Itu pun masih harus ditambah biaya menjahit.
“Untuk kain saja sudah Rp356 ribu lebih per 1,75 meter, padahal masih harus dijahit. Menurut saya itu sangat mahal,” keluh NY saat membeli seragam putih abu-abu untuk anaknya.
Ia juga mengaku pihak sekolah memperbolehkan membeli kain seragam di luaran. Hanya saja, dia mengatakan kesulitan mendapatkan di toko lain.
“Pihak sekolah memang membolehkan membeli di luar, tapi saat saya coba ke toko kain di Jombang, tidak ada yang cocok. Jenis dan warnanya berbeda,” ujarnya, Minggu (17/8/2025).
Dia mengatakan, jenis kain dan warna yang ditentukan pun tidak dijual bebas di pasaran, sehingga wali murid tidak memiliki pilihan lain. Menurutnya, seragam tersebut hanya bisa dibeli di toko tertentu yang terafiliasi dengan sekolah.
Keluhan serupa disampaikan wali murid salah satu SMK Negeri di Jombang, sebut saja MV. Menurutnya, meski pihak sekolah tidak mewajibkan beli seragam di sekolah, jenis kain yang ditentukan tetap sulit didapat.
“Warnanya itu saya cari yang sama persis, tapi setelah saya mengunjungi ke beberapa toko ternyata memang tidak ada yang jual,” kata MV.
Lebih jauh, para wali murid juga menyoroti aturan pembelian seragam olahraga yang harus dilakukan secara paket. Barang yang dipesan pun baru tersedia tiga bulan kemudian.
“Kalau mau beli atribut tertentu tidak bisa, harus sepaket. Itu pun baru datang tiga bulan kemudian. Kan aneh,” imbuh salah satu wali murid.
Selain mahal dan sulit diperoleh, kualitas kain juga dikeluhkan. Menurut sejumlah orang tua, bahan atau kain seragam yang dijual di koperasi sekolah terasa panas dan tidak nyaman dipakai siswa.
Situasi ini memunculkan dugaan adanya praktik “main mata” antara sekolah dan toko penjual seragam. Orang tua berharap pihak terkait turun tangan agar masalah seragam ini segera mendapat solusi.
Hingga berita ini diunggah, LintasDaerah.id masih berupaya melakukan konfirmasi ke pihak sekolah maupun Cabdin Pendidikan Jatim di Jombang.(*)
Lainnya:
- MTQ ke-32 Jombang Resmi Dibuka, Ratusan Qari-Qariah Siap Syiar Al-Qur’an
- Kepala Dinas Pendidikan Jombang Pantau Pelaksanaan TKA SMP 2026
- Ketua PCNU Jombang Kritik Kebijakan Pendidikan, Kesejahteraan Guru dan Moral Siswa Jadi Sorotan
Penulis : Apriani Alva
Editor : Nury






