JOMBANG, LintasDaerah.id – Konflik internal di tubuh cabang olahraga (Cabor) sepatu roda Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terus jadi perhatian publik.
Kali ini, Sandy Dolorosa, salah satu pelopor atau tokoh awal berdirinya olahraga sepatu roda di Jombang giliran membahas terkait polemik yang melibatkan pelatih, klub dan pengurus Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Porserosi) Jombang.
Sandy Dolorosa dipercaya dan ditunjuk sebagai Plt Ketua Perserosi Jombang berdasarkan hasil Musyawarah Kabupaten Luar Biasa (Muskablub) Porserosi Jombang pada akhir April 2025 lalu.
Sandy –sapaan akrabnya, mengaku sudah tidak aktif di kepengurusan selama dua periode terakhir atau sekitar delapan tahun.
Meski begitu, kiprah dan kontribusinya dalam sejarah sepatu roda Jombang tak bisa dipungkiri. Sandy pernah menjabat sebagai Ketua Klub Rijis, klub sepatu roda legal pertama di Jombang yang diakui KemenkumHAM.
“Saya sudah tidak terlibat delapan tahun terakhir. Tapi saya tahu betul bagaimana sejarah sepatu roda di Jombang. Klub Rijis dulu yang membentuk pondasi,” kata Sandy kepada LintasDaerah.id.
Terkait munculnya Muskablub Porserosi Jombang, Sandy menegaskan jika forum tersebut bukanlah aksi mendadak. Melainkan hasil akumulasi kekecewaan yang menumpuk selama bertahun-tahun.
Ia menyebut, banyak pengurus klub sepatu roda di Jombang yang merasa kecewa atas komunikasi yang buruk, ketertutupan informasi, dan dugaan praktik subjektif dalam pemilihan atlet.
“Tiap Porprov, selalu ada drama. Atlet berpotensi tak dipilih, bahkan ada yang sampai menangis,” papar Sandy.
Salah satu pemantik utama Muskablub adalah pernyataan dari Ketua Porserosi Jombang saat ini, yang menyebut atlet yang berasal dari klub tanpa legalitas, tidak boleh naik podium. Sandy menepis pernyataan itu sebagai hal yang tidak berdasar.
“Saya konfirmasi ke Pengprov. Tidak ada aturan seperti itu, karena Porprov adalah antar-kabupaten, bukan antar-klub,” tegasnya.
Sesuai dengan berita acara Muskablub, lanjut Sandy, munculnya forum tersebut lantaran adanya mosi tidak percaya pada kepengurusan Porserosi Jombang saat ini.
Ia membeber, setidaknya dada tiga alasan hingga munculnya mosi tidak percaya tersebut di antaranya,
Pertama, kepengurusan yang tidak sehat. Menurutnya, beberapa pihak menilai, kepengurusan Perserosi Jombang saat ini dianggap hanya dikuasai oleh satu keluarga yang menyebabkan organisasi tidak profesional dan tidak inkusif.
Kedua, pengelolaan keuangan tidak transparan. Kepemimpinan Perserosi Jombang saat ini dianggap tidak transparan dan terindikasi manipulatif.
Terakhir, tidak terjalinnya komunikasi yang baik antara Porserosi Jombang dengan klub-klub yang dinaunginya. Hal ini, lanjut Sandy, mengakibatkan kebingungan bagi wali atlet dan pihak klub untuk memperoleh informasi yang benar.
Muskablub Porserosi Jombang yang diikuti empat klub, di mana Sandy sempat ditunjuk sebagai Ptt Ketua Porserosi Jombang, rupanya memantik reaksi keras dari kubu pengurus resmi.
Sandy mengatakan, kalau Plt Ketua Porserosi Jombang versi Muskabluk mendapat somasi dari pengacara Ketua Porserosi Jombang.
“Teman-teman klub sudah berkali-kali minta salinan AD/ART, tapi tidak pernah diberi. Lalu tiba-tiba disomasi karena pakai istilah Muscablub,” paparnya.
Mirisnya, meskipun sempat terjadi upaya mediasi, pemberlakukan sanksi terhadap klub dan atlet tetap berlanjut.
Beberapa atlet bahkan harus pindah klub agar bisa tetap berlaga, termasuk di ajang di luar daerah. Bahkan juri berlisensi nasional pun ikut terkena skorsing.
“Juri itu bukan di bawah Porserosi, kok bisa disanksi juga? Ini penyalahgunaan wewenang,” kata Sandy geram.
Sandy menegaskan, kalau dirinya tidak punya ambisi jabatan atau kepentingan pribadi dalam konflik ini. Saat itu, ia menyatakan siap mundur kapan saja demi menjaga kelangsungan karier para atlet.
“Saya hanya ingin atlet tidak jadi korban. Mereka yang membawa nama Jombang, masa depan mereka jangan dikorbankan karena konflik elit,” pungkasnya. (*)
Baca sebelumnya: Pemicu Muskablub Porserosi Jombang Terselimuti Tabir Gelap, Nasib Skorsing Klub Sepatu Roda Digantung
Penulis : Apriani Alva
Editor : Nury






