JOMBANG, LintasDaerah.id – Belum genap sebulan kalender 2026 berjalan normal, warga Jombang sudah harus menelan dua tontonan yang mengusik nalar publik. Pertama, genangan air di Jalan RE. Martadinata yang seolah menertawakan proyek drainase senilai Rp 1,5 miliar. Kedua, ambruknya selasar Pasar Ploso bangunan yang baru berusia seumur jagung, dengan sokongan anggaran BKK Provinsi sebesar Rp 3,9 miliar.
Dua peristiwa tragis ini bukan sekadar kebetulan teknis. Keduanya menunjukkan gejala penyakit kronis yang sama: lemahnya pengawasan dan perencanaan yang hanya mengejar serapan anggaran tanpa mempedulikan fungsi jangka panjang.
Di Jalan RE. Martadinata, kita menyaksikan ironi yang luar biasa. Meski Kabid Prasarana Dinas Perkim, Sri Rahayu, sempat mengeklaim pada, 13 November 2025 lalu, bahwa rehabilitasi yang dikerjakan CV. Buminanta Konstruksi menunjukkan “perbaikan signifikan”, faktanya lapangan berbicara lain. Alasan klasik “curah hujan ekstrem” kembali muncul sebagai tameng pelindung birokrasi.
Logikane piye (Logikanya bagaimana)? Masa iya, anggaran Rp 1,5 miliar hanya menghasilkan saluran yang sekadar “cepat surut” tapi tetap mengubah jalan menjadi kolam? Masyarakat Jombang membayar pajak bukan untuk membeli alasan curah hujan. Fungsi drainase adalah mengalirkan air, bukan menjadi waduk penampung banjir yang menunggu surut. Opo yo audit elevasi salurane cuma modal dikiro-kiro (Apa audit elevasi salurannya cuma dikira-kira) lewat foto dari balik meja? Perencanaan yang matang seharusnya sudah memasukkan simulasi “hujan ekstrem” dalam beban debit air, bukan menjadikannya kambing hitam pasca-proyek selesai.
Namun, yang paling menyesakkan dada adalah reruntuhan selasar di Pasar Ploso. Konstruksi sepanjang 15 meter yang ambruk ini bukan perkara sepele. Jika insiden ini terjadi saat jam operasional pasar, kita mungkin tidak hanya membicarakan kerugian material, tapi juga hilangnya nyawa manusia. Meski pelaksana berdalih soal masa pemeliharaan, ambruknya struktur utama pada bangunan yang baru tiga bulan resmi berdiri adalah sebuah skandal teknis.
Lha kok iso (Lha kok bisa) bangunan anyar gres wis cekle’ (bangunan baru sudah patah)? Bagaimana mungkin proyek miliaran rupiah lolos dari pengawasan dinas jika kualitasnya serapuh itu? Apakah konsultan pengawas benar-benar hadir saat pengelasan atau pengecoran berlangsung? Ataukah laporan progres mingguan hanya sekadar tumpukan kertas formalitas untuk mencairkan termin? Ojo-ojo (Jangan-jangan) pengawasannya cuma “iyes-iyes” saja, yang penting proyek selesai meskipun kualitasnya miring.
Kritik tajam dari DPRD Jombang, khususnya Komisi B dan C, tidak boleh berhenti di ruang sidang. Rakyat berhak mendapatkan jawaban transparan: Mengapa proyek-proyek besar ini tampak dikerjakan secara asal-asalan?
Pembangunan daerah jangan sampai menjadi proyek “simsalabim” yang tampak megah saat seremonial peresmian, namun menguap kualitasnya saat dihantam hujan pertama. Jika Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrin) atau Dinas Perkim merasa tidak kompeten mengawasi konstruksi rumit, serahkan manajemen proyek ini kepada ahlinya di dinas teknis atau audit secara independen melalui pihak ketiga. Lek ancene gak mampu, mbok yo ojo dipokso, timbangane rakyat sing dadi korbane (Kalau memang tidak mampu jangan dipaksa, daripada rakyat yang jadi korbannya).
Jombang butuh pembangunan yang bermartabat, bukan pembangunan yang menyisakan trauma bagi pedagang atau genangan bagi pengguna jalan. Jangan sampai APBD kita habis hanya untuk menambal sulam kegagalan yang seharusnya bisa kita cegah sejak dalam perencanaan.
Sudah saatnya aparat penegak hukum dan auditor negara melirik ke bawah trotoar dan di balik reruntuhan kanopi itu. Ada aroma ketidaktelitian yang terlalu menyengat untuk kita abaikan. Ojo ngenteni rakyat nesu (Jangan tunggu rakyat marah) baru sibuk mencari alasan.
Lainnya:
- Mahar Tambang dan Retaknya Cermin Khittah: Belajar dari Keteguhan Kiai Masa Lalu
- Gaji UMP 2026 Naik, Tapi Kenapa Rakyat Makin Susah? Terungkap: Kenaikan Upah Ternyata Hanya "Pereda Nyeri"
- Mulai 1 Maret 2026, Bocil Tidak Bisa Bebas Main Medsos Lagi? Kenali Aturan PP Tunas!
Penulis : R. Wijaya






