LintasDaerah.id – Dahulu, di bawah temaram lampu minyak pesantren tahun 1930-an, para pendiri NU membangun sebuah fondasi yang sangat kokoh bernama Khittah. Dalam dokumen sejarah yang kita baca, Khittah itu bukan sekadar kata-kata manis, tapi sebuah pagar berduri yang menjaga NU agar tetap mandiri, tidak bisa dibeli, dan fokus pada pendidikan rakyat.
Mandiri Tanpa Mengemis
Sejarah mencatat bahwa kaum nasionalis idealis dulu sangat mengagumi pesantren karena satu hal, sebuah Kemandirian. Pesantren dipuji sebagai model pendidikan yang mampu mendidik pemuda membela bangsa dengan kekuatan sendiri “tanpa mengharapkan bantuan pemerintah”. Para kiai masa itu sadar betul bahwa jika kaki sudah terikat pada “pemberian” penguasa, maka lidah akan kelu untuk bicara kebenaran. Mereka memilih hidup sederhana dengan sarung lusuhnya, asalkan martabat umat tetap terjaga.
Kenyataan Pahit: Dari Pesantren Menuju Konsesi Tambang
Namun, jika kita melihat cermin hari ini, bayangannya terasa kusam. Di saat umat di kalangan bawah sedang berjuang bertahan hidup, jajaran elit organisasi justru tampak sibuk di lorong-lorong kekuasaan. Dugaan adanya perintah pemberian izin penuh pengelolaan bisnis tambang oleh pemerintah pada tahun 2024 menjadi pukulan telak yang kian memperkeruh citra ini. Ada paradoks yang menyakitkan di sini: organisasi yang dulunya dipuji karena kemandiriannya tanpa bantuan pemerintah, kini justru terlihat begitu “haus” pada konsesi bisnis dari penguasa.
Langkah ini ibarat meminum air laut, semakin diminum, semakin haus, dan pada akhirnya justru bisa merusak organ dalam organisasi itu sendiri. Ketika urusan “piring nasi” pengurus sudah bergantung pada izin pemerintah, masihkah NU bisa bersikap objektif jika kebijakan pemerintah itu sendiri nanti merugikan rakyat kecil atau merusak lingkungan?
Umat yang Menjadi Yatim Piatu
Kondisi “panas dalam” di tubuh NU saat ini bukan lagi sekadar bumbu obrolan warung kopi, tapi sudah menjadi ancaman nyata perpecahan umat. Catatan sejarah mengingatkan kita bahwa kekuatan NU ada pada kekompakan. Dulu, meski ditekan Belanda dan diremehkan kelompok modernis, NU tetap utuh karena kiblatnya satu: kemaslahatan umat dan kesucian jiwa.
Sekarang, ketika kiblatnya mulai bergeser ke arah angka-angka profit dan lobi politik, umat mulai merasa kehilangan arah. Banyak yang merasa menjadi “yatim piatu” secara spiritual karena melihat rumah besarnya sedang sibuk berbisnis. Jika perpecahan ini terus dibiarkan demi mengejar kemilau tambang, maka kita sedang menghancurkan warisan para kiai tahun 1926 yang sudah susah payah dijaga dengan doa dan air mata.
Pulang ke Serambi Pesantren: Rindu NU Tempo Dulu
Mungkin sudah saatnya para elit NU berhenti sejenak dari hiruk-pikuk urusan tambang dan kembali membaca lembaran sejarah mereka sendiri. Sejarah membuktikan bahwa NU paling kuat saat mereka paling mandiri. Jangan sampai karena mengejar “harta karun” di perut bumi, kita justru kehilangan “harta karun” yang paling berharga: kepercayaan umat dan kesucian Khittah.
( Konsep : JIK-NAH)
Penulis : R Wijaya
Editor : Nury






