JOMBANG, LintasDaerah.id – Acara Wiwit Kopi 2025 di Kampung Adat Segunung, Wonosalam, Jombang, tak hanya menampilkan tradisi sakral dan budaya lokal. Namun, juga menjadi panggung inklusif bagi pecinta kopi dari seluruh penjuru Nusantara.
Salah satunya adalah Baltasar Klauna Haqq, peserta asal Sorong, Papua Barat Daya yang berhasil meraih Juara Tiga dalam lomba Sangrai Kopi Manual. Ia berhasil menyabet juara 3 bersama temannya yang berasal dari Jakarta.
Pria yang akrab disapa Kak Ball ini datang jauh-jauh dari ujung timur Indonesia untuk mengikuti kompetisi unik yang menjadi bagian dari rangkaian acara Wiwit Kopi 2025 Kampung Adat Segunung.
Ia mengaku mengetahui informasi acara tersebut melalui akun Instagram Akta Bumi, sebuah yayasan yang aktif mendampingi Kampung Adat Segunung dalam pengembangan SDM dan pelestarian budaya.
“Saya tertarik karena acara ini dilakukan bukan di kota besar, tapi di kampung adat. Dan ternyata acaranya benar-benar sesuai ekspektasi,” ungkapnya usai menerima penghargaan.
Lomba sangrai kopi yang diikutinya bukan sekadar adu cepat, tapi lebih pada feel dan teknik yang sangat tradisional. Para peserta, sebanyak 27 orang, ditantang menyangrai biji kopi secara manual, menggunakan tungku dari tanah liat dan api terbuka, tanpa bantuan mesin modern.
“Ini pertama kali saya sangrai manual. Apinya harus stabil dan kita harus terus mengaduk. Kalau terlalu panas bisa gosong, kalau kurang panas bisa mentah. Intinya harus sabar dan telaten,” tutur Kak Ball.
Satu hal yang membuat pengalaman ini makin berkesan, yaitu proses sangrai dilakukan diiringi gamelan Jawa. Kombinasi aroma kopi yang menguar dengan alunan musik tradisional menciptakan atmosfer yang menurut Kak Ball, “sangat berbeda dan berkesan.”
Saat ditanya mengenai kesukaannya dengan minuman warna hitam tersebut, Kak Ball langsung mengiyakan. Bahkan ia memiliki filosofi kopi yang unik.
“Saya punya filosofi kopi sendiri. Yaitu ‘Minumlah kopi karena hidup butuh inspirasi, bukan halusinasi’,” tambahnya dengan tawa khas.
Kak Ball tidak hanya datang untuk bertanding, tapi juga ingin menyerap kearifan lokal dan kehangatan warga Kampung Adat Segunung. Usai mengikuti lomba, ia berencana melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta untuk menjelajah kebudayaan Jawa lebih dalam.
“Sudah jauh-jauh datang, rasanya sayang kalau tidak sekalian menjelajahi Pulau Jawa,” ujarnya sambil tertawa.
Wiwit Kopi 2025 menjadi bukti dari tradisi lokal bisa menjangkau lebih luas tanpa kehilangan akarnya. Selain prosesi pemetikan kopi perdana dan arak-arakan gunungan hasil panen, lomba sangrai kopi manual menjadi salah satu ajang yang membuka ruang bagi kolaborasi budaya.
Kepala Adat Kampung Segunung, Supi’i, mengungkapkan, partisipasi dari luar daerah seperti ini memperkuat semangat persaudaraan antar daerah.
“Kami senang Wiwit Kopi tidak hanya dinikmati warga Jombang, tapi juga teman-teman dari luar pulau yang ingin belajar dan ikut merayakan bersama.”
Dengan semangat menjaga tradisi sekaligus membuka ruang kreativitas dan kolaborasi, Wiwit Kopi 2025 di Kampung Adat Segunung tak hanya menyajikan kopi yang hangat, tapi juga cerita-cerita yang inspiratif, salah satunya dari Sorong, Papua.(*)
Baca Juga:
- Budisatrio Djiwandono Pimpin Karang Taruna Nasional: Inklusif, Sosial, atau Politik?
- Sekdakab Jombang Home Visit ke Calon Siswa Sekolah Rakyat, Warganet: 'Opo Seh Iku?'
- Tipu Rp61 Juta, Sekdes Rejoagung Jombang Dilaporkan Polisi Butut Pengurusan Sertifikat Tanah
Penulis : Apriani Alva
Editor : Nury






