Pagi itu, suasana salah satu pasar di Kadipaten Jomplang cukup ramai. Bukan karena jor-joran diskon tempe apalagi giveaway buy one get one. Tapi karena satu topik hangat, yaitu parkir sapi dan kuda yang katanya gratis, tapi kok bayar.
Di pojokan warung dekat lumbung jagung, tiga perempuan desa sedang ngerumpi sambil ngudek wedang jahe panas. Ada Yuk Linda yang lidahnya setajam arit panen, Mbok Semok yang mulutnya tak pernah kehabisan komentar, dan Rusmini, si lugu yang jadi langganan korban “kebijakan dadakan”.
“Eh, koe wis krungu durung, Min?” tanya Yuk Linda sambil membetulkan lipatan kerudungnya. “Katanya parkir kuda gratis, kok aku tetep disuruh bayar 2 keping emas? Lah, aku kan cuma beli gorengan”.
“Iyo, Yuk! Aku kemarin bawa sapi nganterin si Mbok jualan ketela, ndilalah disuruh bayar juga. Katanya buat gaji prajurit jaga kuda dan sapi. Lah emang sapiku pengen dijaga? Wong dia malah anteng ngunyah jerami sendiri.”
Mbok Semok yang dari tadi nyimak akhirnya nyeletuk dengan gaya dramatis, “Nduk… nduk.. saiki saiki prajurit yo iso dadi satpam kuda dan sapi. Tapi jenenge prajurit upahan, yo kudu diupahi. Nanging… masalahe… kok ya rakyat sing mbayar? Tumenggung-e piye to ature?”
Yuk Linda mendesah sambil ngebenerin kain jariknya. “Aturan tuh cuma dipampang pas peresmian. Setelah itu? Hilang kayak mantan waktu ditagih janji. Lha, rakyat disuruh percaya, tapi tiap hari kena jebakan ‘gratis palsu’.”
Obrolan mereka makin panas. Ternyata kejadian ini udah jadi buah bibir sepasar. Tukang sayur ngomongin di emperan, tukang jamu bisik-bisik di pojokan, bahkan kambing-kambing pun seperti ikut geleng-geleng kepala di kandang.
Sambil menyeruput jahe, mereka menoleh ke arah kerumunan. Di kejauhan, terlihat prajurit jaga kuda dan sapi berdiri di samping seekor kuda yang tampak kebingungan.
“Itu tuh, prajuritnya berdiri kaku kayak patung. Kudanya malah ngelirik kayak mau nanya, ‘Kamu siapa, Bro?” Rusmini komat-kamit seraya njawil Mbok Semok.
“Yo jelas, Min. Kudanya heran, lha wong biasanya gak ada yang jagain, kok sekarang dijagain prajurit. Emangnya dia mau perang?”
Yuk Linda langsung gercep menyahut, “Aku curiga, besok gerobak sayur juga bakal kena tarif parkir. Alasannya: pengamanan strategis wilayah dagang.”
Tiba-tiba, suara megaphone terdengar keras dari tengah pasar. “Monggo, monggo… parkir gratis… parkir gratis.”
Kemudian suara itu meredup, “Tapi tetep setor biaya jaga, biaya operasioanl, biaya pengamanan, biaya ketahanan pangan, dan biaya rasa aman spiritual…”
Rusmini bingung, mencolek Yuk Linda, “Lha itu namanya parkir berbayar yang menyamar, Yuk…”
“Tepat! Meski yang kalimat belakangnya tidak terdengar lantang. Yo memang sih, sing mbangun pasar iki kan Tumenggung gawe duit upeti dari rakyat. Lha kenapa kok malah rakyat disuruh nomboki maneh? Kalau gitu, namanya gratis tipuan,” Yuk Linda menaggapi.
Mbok Semok pun nyahut, “Ini bukan soal kuda dan sapi maneh, ini soal kejujuran. Nek ature gratis, yo gratis tenan. Ojo diganti bungkus baru terus dibilang ‘biaya operasional’.”
“Aku tak usul, nduk. Besok kita pasang papan di pasar: ‘Parkir Gratis, Tapi Jangan Kaget Kalau Anda Akhirnya Meringis”.
Akhirnya mereka sepakat. Besok pagi, mereka akan datang lagi ke pasar, kali ini bukan hanya bawa ketela, tapi spanduk dari daun pisang bertuliskan:
“Kuda dan Sapi Tak Butuh Satpam, Rakyat Butuh Kejelasan”.
Yuk Linda menatap langit dengan sorot mata tajam. “Yang bikin capek itu bukan bayar parkirnya… tapi dibodohinya,” gerutunya seraya senyum-senyum seolah rakyat ini nggak bisa mikir. (*)
Penulis : Apriani Alva
Editor : Nury






