LintasDaerah.id – Saat ini seharusnya Indonesia tengah masuk musim kemarau. Namun, ternyata hujan masih sering turun di banyak daerah di Indonesia. Nah, kondisi inilah yang disebut kemarau basah.
Apa itu kemarau basah? Yuk, simak penjelasan lengkapnya dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika).
Kemarau basah adalah kondisi musim kemarau yang tetap diguyur hujan. Padahal, seharusnya di musim kemarau hujan sangat jarang terjadi. Saat kemarau basah, hujan bisa turun cukup sering dengan intensitas sedang hingga tinggi.
BMKG menyebut, kemarau basah sebagai fenomena anomali cuaca, karena tidak sesuai dengan pola musim kemarau pada umumnya.
Terjadinya kemarau basah disebabkan berbagai faktor yang dipengaruhi dari kondisi cuaca global dan regional.
Beberapa pemicu kemarau basah di antaranya La Nina, gangguan cuaca di atmosfer hingga suhu laut hangat dan IOD negatif.
La Nina terjadi saat suhu air laut di Samudera Pasifik lebih dingin, sehingga udara lembap bergerak ke Indonesia dan memicu hujan.
Sedangkan gangguan cuaca dari atmosfer bisa berupa MJO (Madden-Julian Oscillation), gelombang Kelvin, dan Rossby. Ketiganya menyebabkan terbentuknya awan sehingga hujan tetap turun meskipun sedang musim kemarau.
Berdasarkan pantauan BMKG, sebagian wilayah Indonesia sejak April hingga Juni 2025 seharusnya intensitas hujan tak banyak. Namun, hujan sering turun meski sudah memasuki musim kemarau.
BMKG memperdiksi, kemarau basah akan berlangsung sampai Agustus atau September 2025.
Fenomena kemarau basah bisa menimbulkan berbagai dampak yang perlu diwaspadai. Satu di antaranya sektor pertanian.
Saat kemarau basah, tanah yang terlalu lembap akibat hujan terus-menerus dapat memicu penyakit tanaman dan meningkatkan risiko gagal panen, terutama untuk tanaman palawija seperti jagung dan kedelai yang membutuhkan kondisi tanah lebih kering.
Selain itu, kemarau basah juga berdampak pada kondisi air. Memang benar, ketersediaan air tetap terjaga karena waduk dan sungai terus terisi.
Namun, hujan yang turun di luar musim bisa menyebabkan genangan bahkan banjir lokal, terutama di daerah dengan sistem drainase buruk atau dataran rendah.
Tak hanya itu, aktivitas harian masyarakat juga ikut terganggu. Cuaca yang sulit diprediksi membuat banyak rencana menjadi berantakan, mulai dari kegiatan di luar rumah, pekerjaan lapangan, hingga aktivitas sosial.
Penting bagi masyarakat untuk terus memantau informasi cuaca dari BMKG dan menyesuaikan kegiatan dengan kondisi di sekitarnya. (*)
Baca Juga:
- Sopir Kaget Disalip di Tikungan, Truk Muatan Kayu Terjun ke Sawah Mojoagung Jombang
- Kebakaran Gudang Rongsok di Mojoagung Jombang Diduga Karena Hal Sepele, Ini Kronologinya
- 3 Bupati Kompak! Flyover Mengkreng Segera Dibahas, Solusi Macet Parah di Jatim
Penulis : Apriani Alva
Editor : Nury






