JOMBANG, LintasDaerah.id – Ratusan warga dan pengunjung memadati Kampung Adat Segunung, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang untuk mengikuti prosesi Wiwit Kopi 2025, sebuah tradisi yang sarat nilai spiritual dan budaya.
Acara yang digelar di kebun kopi ini menjadi penanda dimulainya musim panen kopi di Kampung Adat Segunung pada hari Sabtu (14/06/2025).
Prosesi dimulai dengan doa bersama di tengah hamparan pohon kopi. Para sesepuh kampung membakar dupa sebagai simbol penyucian, sementara warga dan pengunjung duduk melingkar mengelilingi tumpeng nasi kuning lengkap dengan ayam ingkung, mie goreng, tempe orek, kerawu, dan sambal.
Sesepuh Adat, Sis Kuncoro, membuka ritual Wiwit Kopi dengan merapalkan kalimat-kalimat dalam bahasa Jawa yang kemudian ditutup doa bersama.
Prosesi ini menjadi simbol dimulainya panen kopi yang diwujudkan lewat pemetikan biji merah pertama oleh Sesepuh Adat Kampung Segunung. Camat Wonosalam yang datang juga turut serta memetik biji kopi dalam prosesi ini.
Tak hanya ritual sakral, acara ini juga menjadi ajang kebersamaan. Pengunjung diajak menyantap tumpeng secara lesehan di bawah pohon kopi, mempererat rasa syukur dan gotong royong di antara warga.

Menurut Ketua Adat Kampung Segunung, Supi’i, tradisi Wiwitan awalnya juga dilakukan saat musim panen padi dan berbagai tanaman di Kampung Adat. Namun kini, karena masyarakat lebih banyak menanam kopi, Wiwit Kopi menjadi agenda tahunan yang tetap lestari hingga saat ini.
“Wiwitan Kopi adalah tradisi turun temurun di Kampung Adat Segunung. Sebenarnya tradisi wiwitan ini bukan hanya untuk kopi. Dulu saat di sini banyak perani padi, tradisi wiwitan juga dilakukan saat awal musim panen padi. Namun saat ini, kebanyakan masyarakat Kampung Adat Segunung menanam kopi, sehingga tradisi Wiwitan Kopi menjadi agenda rutin tiap tahun,” ucap Supi’i.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Adat Segunung juga menjelaskan mengenai gunungan yang akan diarak usai pemetikan kopi pertama.
“Informasi semalam akan ada 4 gunungan hasil panen warga sekitar. Tadi padi kami mendapat kabar gunungannya akan bertambah menjadi 8. Bisa jadi saat arak-arakan dimulai, jumlah gunungan akan bertambah. Kami memang membebaskan siapa saja warga kampung segunung yang ingin berbagai syukur dalam acara ini untuk turut serta berpartisipasi,” ucap Ketua Adat.
Sementara Camat Wonosalam, Haris Aminuddin mengapresiasi gelaran Wiwit Kopi 2025.
“Tradisi Wiwit Kopi Kampung Segunung ini adalah budaya yang sudah berlangsung bertahun-tahun terakhir. Acara Wiwit tahun ini juga menjadi ajang gelar potensi UMKM Kampung Adat Segunung di Pendopo. Para pengunjung bisa mencicipi kopi dan susu gratis,” ucap pak Camat yang turut serta menikmati nasi tumpung.
Usai ritual utama, kemeriahan dilanjutkan dengan arak-arakan gunungan hasil panen. Gunungan-gunungan berisi sayur, buah, kue, hingga uang dibawa berkeliling kampung, dengan start dari RT 4 menuju Pendopo Balai Ageng Giri Kedaton.
Pawai ini dimeriahkan warga yang mengenakan pakaian adat, termasuk anak-anak dan ibu-ibu yang membawa parcel.

Sesampainya di pendopo, gunungan didoakan dan langsung diserbu warga serta penonton yang antusias. Momen rebutan hasil gunungan ini menjadi simbol pembagian rezeki dan berkah panen.
Acara Wiwit Kopi 2025 menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat Kampung Adat Segunung menjaga warisan budaya sambil menyemai kebersamaan.(*)
Baca Juga:
- Bupati Jombang Umumkan Kebijakan Pajak Baru: Bebas Denda, Diskon BPHTB, dan Perlindungan Masyarakat Berpenghasilan Rendah
- Minibus Terguling Usai Tabrak Motor Parkir di Sukomoro Nganjuk, Begini Nasib Sopirnya
- Tabrak Motor di Nganjuk Lalu Kabur, Sopir Truk Diamankan Kurang dari Satu Jam
Penulis : Apriani Alva
Editor : Nury






