JOMBANG, LintasDaerah.id – Kawasan Sambongduran, Desa Jombang, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur ini telah menjelma menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang modern dan fungsional.
Padahal sebelumnya, kawasan ini ini hanya sebatas hamparan lapangan tak terurus. Pun juga jarang difungsikan warga setempat meskipun sekedar sepak bola.
Perubahan ini bukan hanya mengubah wajah fisik desa, tapi juga menyentuh aspek sosial, ekonomi, dan kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
Kawasan yang dulu dikenal sempit, padat, dan minim infrastruktur dasar seperti jalan, air bersih, drainase, serta sanitasi, kini mengalami transformasi total.
Lingkungan yang sebelumnya terkesan kumuh dan rawan penyakit, perlahan disulap menjadi ruang publik yang layak dan ramah untuk semua kalangan.
Perubahan ini merupakan bagian dari program revitalisasi kawasan kumuh yang digulirkan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Penanganan Permukiman Kumuh Terpadu (PPKT) tahun 2023.
Proyek ini dikerjakan secara swakelola oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) ‘Berkah Air Mandiri’, dengan fokus pada pengembangan infrastruktur dasar seperti, penyediaan air minum, sistem sanitasi, drainase dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), tempat Pengolahan Sampah (TPS3R), jalan lingkungan, dan penataan landscape ruang terbuka publik
Perubahan besar ini tidak terlepas dari peran aktif masyarakat. Andika, salah satu warga yang turut memperjuangkan aspirasi masyarakat Sambongduran, mengungkapkan optimisme terhadap manfaat jangka panjang proyek ini.
“Dulu tempat ini sepi, penuh semak dan terkesan kumuh. Tapi setelah dibuka dan difungsikan, suasananya langsung berubah. Anak-anak bisa bermain, ada sentra kuliner, warga bisa bersantai. Ini akan jadi pusat aktivitas baru,” jelasnya di sela-sela memantau kelanjutan proyek.
Hal senada juga disampaikan Indra, Ketua RT 8. Ia menyebutkan bahwa warga bersama Pemerintah Desa (Pemdes) tengah merancang pemanfaatan lanjutan RTH sebagai sentra ekonomi dan edukasi.
“Kami berencana menjadikan lapangan ini sebagai lokasi kegiatan UMKM harian atau mingguan. Ada jajanan, kerajinan, hingga produk olahan warga. Ini bisa jadi pemicu pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus percontohan desa lain,” ujarnya.
Sementara Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Kabupaten Jombang, Agung Hariadi, menyambut baik inisiatif warga. Menurutnya, sebagian besar infrastruktur yang dibangun melalui DAK PPKT 2023 sudah bisa dimanfaatkan, dan sisanya akan dilengkapi secara bertahap.
“Pekerjaan seperti RTLH, sanitasi, jalan lingkungan, dan penyediaan air bersih sudah selesai. Untuk fasilitas pelengkap seperti pagar dan lapak UMKM akan menyusul. Kami juga menyarankan agar pengelolaan air bersih sementara bermitra dengan PDAM agar tidak membebani anggaran desa,” paparnya.
Agung menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hasil pembangunan agar dampaknya berkelanjutan.
“Kini, lapangan Sambong Duran bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga simbol perubahan dan keberhasilan. Ini bukan sekadar proyek fisik, tetapi hasil nyata kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan KSM,” tambahnya.
Pemkab Jombang, lanjutnya, berkomitmen melanjutkan pembangunan serupa di kawasan lain hingga tahun 2029, dengan harapan setiap desa memiliki ruang publik yang tak hanya hijau dan sehat, tapi juga menopang aktivitas ekonomi dan sosial warga.
“Pembangunan yang baik itu berakar dari bawah. Dimulai dari lapangan kecil, tapi dampaknya bisa sangat besar. Inilah wujud nyata pembangunan berbasis masyarakat,” pungkas Agung Hariadi. (*)
Editor : Nury






