Malam 1 Suro penuh Kesakralan hingga Larangan Pernikahan

- Redaksi

Kamis, 19 Juni 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi malam 1 Suro yang sakral. (Foto dibuat dengan AI)

Ilustrasi malam 1 Suro yang sakral. (Foto dibuat dengan AI)

JOMBANG, LintasDaerah.id – Malam 1 Suro atau malam sebelum tanggal 1 Suro dalam kalender Jawa, selalu menjadi momen yang penuh makna dan nuansa spiritual mendalam, terutama bagi masyarakat di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Malam ini sekaligus menandai datangnya Tahun Baru Jawa, yang dihitung berdasarkan gabungan sistem kalender Jawa-Saka dan kalender Hijriah Islam.

Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi yang identik dengan pesta dan kemeriahan, malam 1 Suro justru dikenal sebagai waktu penuh keheningan, perenungan, dan tirakat.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, malam ini diyakini sebagai saat terbaik untuk mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa, tapa (puasa batin), meditasi, dan laku prihatin.

Bulan Suro: Bulan Prihatin dan Larangan Pernikahan

Salah satu kepercayaan yang masih kuat diyakini hingga kini adalah larangan menikah pada malam 1 Suro dan sepanjang bulan Suro.

Mitos ini bukan tanpa alasan. Sejak zaman leluhur, masyarakat Jawa meyakini bahwa menggelar pernikahan pada bulan Suro bisa mendatangkan kesialan atau sengkolo, seperti gangguan keuangan, konflik rumah tangga, hingga musibah atau kematian.

Larangan ini berakar dari anggapan, bulan Suro adalah bulan prihatin. Bulan untuk menahan diri dari kesenangan duniawi, dan bukan waktu yang cocok untuk merayakan pesta besar seperti pernikahan. Menurut kepercayaan Jawa, menikah di bulan ini dianggap bertentangan dengan nilai-nilai kesakralan dan kesunyian yang dijunjung tinggi selama Suro.

Baca Juga  5 Mitos Daging Kurban: Daging Kambing Bikin Darah Tinggi hingga Tak Perlu Dicuci

Tak hanya itu, beberapa tanggal dalam bulan Suro juga dianggap sangat tidak baik untuk pernikahan, seperti tanggal 6, 11, dan 13, serta hari-hari tertentu seperti Rabu Pahing atau akhir pekan tertentu. Penanggalan ini berdasarkan warisan primbon Jawa yang hingga kini masih menjadi rujukan sebagian masyarakat dalam menentukan hari baik atau buruk.

Pengaruh Sejarah dan Islam

Tradisi larangan pernikahan di bulan Suro juga memiliki keterkaitan dengan peristiwa penting dalam sejarah Islam. Bulan Suro bertepatan dengan bulan Muharram dalam kalender Hijriah, yang juga dikenal sebagai bulan Asyura. Di bulan ini, umat Islam mengenang tragedi Karbala, di mana cucu Nabi Muhammad SAW, Husain bin Ali, wafat secara tragis.

Sebagai bentuk penghormatan atas duka tersebut, masyarakat Jawa—khususnya yang masih menjaga nilai-nilai tradisional dan spiritual—menghindari segala bentuk pesta atau perayaan besar. Suasana duka dan refleksi lebih dikedepankan, termasuk menghindari pernikahan sebagai bentuk empati spiritual.

Baca Juga  Goa Margo Trisno Nganjuk, Destinasi Mistis Penuh Cinta dan Legenda

Ritual Keraton dan Asal-Usul Kesakralan

Sejak masa pemerintahan Sultan Agung Mataram, bulan Suro telah ditetapkan sebagai bulan sakral dan khusus untuk kegiatan spiritual. Kerajaan-kerajaan Jawa kala itu menyelenggarakan ritual penting seperti kirab pusaka, tapa bisu, dan doa-doa panjang di keraton.

Dalam konteks tersebut, pelarangan pernikahan pada bulan Suro juga dilakukan agar tidak terjadi “persaingan” antara hajatan masyarakat dengan ritual sakral kerajaan. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya posisi spiritual bulan Suro dalam tatanan budaya Jawa klasik, yang terus diwariskan hingga kini.

Laku Suro: Tirakat, Meditasi, dan Keheningan

Malam 1 Suro bagi sebagian masyarakat masih dijalani dengan melakukan laku tirakat, seperti tapa bisu (berjalan tanpa bicara) di area keramat, puasa mutih, atau meditasi di tempat sunyi. Aktivitas ini dipercaya membuka batin, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, dan membersihkan diri dari aura negatif.

Bagi para pelaku spiritual dan penganut kejawen, bulan Suro bukan sekadar bagian dari penanggalan, tapi waktu istimewa untuk melewati “lorong sunyi” demi mencapai keseimbangan hidup dan ketenangan jiwa.(*)

Penulis : Apriani Alva

Editor : Nury

Berita Terkait

Sejarah Hari Tani Nasional yang Jarang Dibahas
Perbedaan Malam 1 Suro dan 1 Muharram: Jangan Sampai Salah Kaprah!
5 Mitos Daging Kurban: Daging Kambing Bikin Darah Tinggi hingga Tak Perlu Dicuci
Goa Margo Trisno Nganjuk, Destinasi Mistis Penuh Cinta dan Legenda
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 23 September 2025 - 19:49 WIB

Sejarah Hari Tani Nasional yang Jarang Dibahas

Kamis, 19 Juni 2025 - 07:07 WIB

Malam 1 Suro penuh Kesakralan hingga Larangan Pernikahan

Rabu, 11 Juni 2025 - 08:59 WIB

Perbedaan Malam 1 Suro dan 1 Muharram: Jangan Sampai Salah Kaprah!

Jumat, 30 Mei 2025 - 07:00 WIB

5 Mitos Daging Kurban: Daging Kambing Bikin Darah Tinggi hingga Tak Perlu Dicuci

Minggu, 18 Mei 2025 - 09:13 WIB

Goa Margo Trisno Nganjuk, Destinasi Mistis Penuh Cinta dan Legenda

Berita Terbaru

Kondisi sebuah gudang rongsokan di Dusun Winong RT 03 RW 02, Desa Johowinong, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, pada Senin (16/3/2026) dini hari.

Peristiwa

Gudang Rongsokan di Johowinong Jombang Ludes Terbakar

Senin, 16 Mar 2026 - 15:51 WIB

Politik & Pemerintahan

Bansos 2026 Cair! 2.495 Warga Jombang Terima Bantuan Uang Tunai dan Beras

Senin, 16 Mar 2026 - 09:28 WIB